Tips Hari Ini
Resep Untuk Anda
Cerita Renungan
Table Cell
Table Cell Table Cell Table Cell
Table Cell Table Cell Table Cell
Table Cell Table Cell Table Cell
Table Cell Table Cell Table Cell

HTML Tables

Rabu, 06 Juli 2011

Musyawarah Desa Serah Terima (MDST) Kel. Manggau, Kec. Makale

Musyawarah Desa Serah Terima (MDST) adalah rangkaian kegiatan di Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Kelurahan Manggau Kec. Makale, Kab. Tana Toraja pada PNPM-MP 2010 mendapat kucuran dana lebih dari Rp 400 Juta , yang dialokasikan untuk kegiatan SPP dan Pembangunan Fisik berupa kegiatan pembangunan Posyandu, Pembangunan Rabat Beton dan Pembangunan Jembatan.

Hari ini, Kamis (30/6-2011) Kelurahan Manggau telah menyelesaikan kegiatan yang didanai melalui proyek PNPM tersebut. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya Musyawarah Desa Serah Terima Oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Kel. Manggau Kec. Makale.


Hadir dalam MDST tersebut PjOK Kec. Makale yang sekaligus mewakili Camat Makale yang tidak sempat hadir karena sedang tugas di tempat yang lain, FK dan FT Kec. Makale, Ketua UPK Kec. Makale, dan warga masyarakat Kelurahan Manggau.

Dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan ini, Lurah Manggau Bapak P. Takin Betteng, menyampaikan ungkapan terima kasih kepada masyarakat dan pengurus TPK yang telah berupaya sedmikian rupa sehingga pekerjaan pembangunan Jalan, Posyandu dan jembatan dapat diselesaikan dengan baik. Meskipun sangat terlambat. Selain itu, Lurah Manggau juga menyampaikan terima kasih kepada FK & FT Kec. Makale, serta Pengurus UPK dan PjOK yang senantiasa memberikan informasi dan bimbingan kepada masyarakatnya dalam rangka penyelesaian kegiatan ini.

Sementara itu dalam laporan pertanggungjawaban Ketua TPK, yang disampaikan oleh Bapak Daniel Solon Kananlua', SE menyatakan bahwa keterlambatan penyelesaian kegiatan di Manggau, khususnya kegiatan Rabat Beton dengan volume 950 M disebabkan oleh medan yang sangat berat serta iklim yang kurang mendukung.

Ditempat yang sama Drs. Sattu Sambo, Penanggungjawab Operasional kegiatan (PjOK) yang pada kesempatan itu juga mewakili camat Makale, Menjelaskan bahwa PNPM Mandiri Perdesaan itu merupakan dana stimulan, Masyarakat diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam kegiatan pembangunan di daerahnya, serta mengharapkan untuk lebih meningkatkan partisipatif dalam setiap kegiatan pembangunan di Desanya. Read More...

Sabtu, 02 Juli 2011

Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata

Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti di :

Londa, yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia.
Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa’. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Tampang Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla’ dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla’ dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni “sehidup semati satu kubur kita berdua”. Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.
Liang Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang.
To’Doyan adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.
Patane Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar Ne’Babu’ disemayamkan dalam Patane ini. tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat . Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.
Ta’pan Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Ta’pan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan Belolangi’. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang meRambu' untuk manusia yang telah meninggal. Ta’pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang meRambu' yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona. Read More...